Sabtu, 24 Juni 2017

Floodable Length

 Floodable Length
Floodable Length atau Diagram Kebocoran adalah lengkung atau garis dari letak panjang maksimal ruangan yang dibatasi oleh sekat melintang, bila ruangan tersebut tergenagg air (mengalami kebocoran) dan sarat air dari kapal tepat menyinggung garis batas tenggelam (Margin Line), dimana kapal masih tepat dapat terapung atau pada saat kapal akan tenggelam. (Priowirjanto, 2003). Atau floodable length juga dapat diartikan untuk menentukan letak posisi yang tepat untuk sekat kedap air.. Letak sekat kedap air harus sedemikian rupa sehingga permukaan air tidak akan melampai garis singgung batas tenggelam (Margin Line), sekalipun beberapa ruangan yang letaknya berurutan terisi penuh oleh air bocor. Margin Line ini letaknya 3 inchi (76 mm) di bawah garis geladak (Upper Deck Side Line). (Guldhammer,1962) Jarak antara 2 buah sekat kedap air yang boleh terisi penuh tanpa melalui Margin Line disebut Panjang Isian. Pada saat menentukan panjang isian ini, maka permeabilitas dari ruangan yang dimaksud harus diperhatikan. Permeabilitas ruangan adalah perbandingan volume air yang masuk ke dalam ruangan dengan volume ruangan yang bocor. Volume air yang masuk ke dalam ruangan di sini merupakan selisih volume ruangan kosong dengan volume barang-barang, konstruksi, orang dan peralatan-peralatan lain yang ada di dalam ruangan tersebut.
Panjang isian dari kapal dengan panjang lebih dari 131 meter dan kapal penumpang lebih dari 79 meter harus diperbanyak dengan faktor untuk mendapatkan panjang isian yang diizinkan untuk menjaga keselamatan dan stabilitas kapal beserta barang dan penumpang yang dibawanya. Jadi panjang isian yang diizinkan = panjang isian x (0,33-1). Kalau dari tiap-tiap ruang kedap air talah dihitung panjang isian yang diizinkan maka hasil-hasil ini diukurkan secara tegak pada setiap garis tengah dari masing-masing ruangan tersebut. Dengan menggunakan titik tadi terbentuklah sebuah garis lengkung sekat kedap air (Curve of Floodable Length).
Hasil dari Floodable Length dan faktor pembagian memberikan pedoman untuk menentukan panjang isian yang diizinkan. Kompartemen yang akan dibuat tidak boleh melebihi panjang isian yang diizinkan.
Secara singkat tahapan-tahapan perhitungan floodable length adalah sebagai berikut:
1.         Menentukan Geladak Sekat dan Margin Line
2.         Menghitung faktor-faktor pembagian sekat
3.         Menghitung permeabilitas masing-masing kompartemen
4.         Tentukan Curves of Floodable Length

5.         Tentukan panjang isian kompartemen yang diizinkan

Insubmersibility

apa itu  Insubmersibility........ ????????????? 
Insubmersibility atau  insubmersibilitas, adalah kemampuan sebuah kapal untuk tetap mengapung ketika satu atau lebih kompartemen-kompartemennya rusak dan terendam air laut. Ketika sebuah kompartemen terendam air, satu atau beberapa kompartemen harus diisi air untuk menyeimbangkan kembali atau memulihkan lagi stabilitas kapal. Khususnya kapal-kapal perang, dengan kompartemen-kompartemen yang lebih kecil untuk melindungi mereka dari bahaya tenggelam Sehingga pada keadaan tersebut kapal masih mempunyai cadangan daya apung dan stabilitas yang diyakini mampu untuk mencegah tenggelamnya kapal sampai dengan kapal tersebut berlabuh di pelabuhan ke galangan kapal terdekat. ( Semyonov, 2004)
Lebih jauh lagi, bahwa pertambahan sarat yang diikuti dengan pertambahan heel dan trim menghambat aliran air pada kapal dan mengganggu pengoperasian propeller dan permesinannya. Insubmersibility kapal harus dilengkapi buoyancy cadangan. Dengan ketentuan bahwa buoyancy cadangan digunakan secara tepat merupakan hal penting yang dimiliki oleh kapal. Pembagian ruang muat menjadi kompartemen-kompartemen merupakan salah satu pemanfaatan dari buoyancy cadangan.
Stabilitas kapal setelah terjadi kebocoran marupakan faktor yang sangat penting untuk diperhatikan di samping masalah buoyancy. Hal ini mempunyai kaitan yang sangat besar dengan perencanaan stabilitas kapal. Di dalam perhitungan dengan Metode Krylov disebutkan bahwa rencana pembagian ruang muat dan porsi bangunan yang berada di atas air adalah hal penting yang dapat digunakan sebagai petunjuk perhitungan efek  dari kompartemen bocor pada heel, trim dan stabilitas.
Seluruh kompartemen bocor dari kapal dibagi dalam dua kategori dasar, yaitu: kompartemen yang berhubungan langsung dengan ballast dan kompartemen yang tidak langsung berhubungan dengan ballast. Untuk kompartemen kategori kedua lebih jauh lagi dapat diklasifikasikan menjadi: kompartemen yang tertutup pada puncak dan terisi dengan air dan kompartemen yang terbuka bagian atasnya atau terisi air sebagian saja. Pada ruangan pertama kondisi rata dari garis air di dalam kompartemen tidak dapat berubah posisi. Adanya pencegahan ini karena platform atau batas atas dari deck tetap. Pada ruang tipe kadua tidak terdapat pencegahan terhadap kondisi rata dari garis air terhadap perubahan posisinya sebagai konsekuensi dari perubahan posisi kapal.

Perbandingan terhadap beberapa tipe kompartemen dalam dimensi yang sama kita akan mendapatkan penyelesaian akhir bahwa kondisi trim terbaik untuk keadan jika terjadi kebocoran adalah kompartemen yang tidak berhubunag langsung dengan air dan komaprtemen yang tertutup pada puncak dan penuh terisi air. Tidak ada perbedaan kondisi insubmersibility pada seluruh kompartemen sejak kualitas air di dalamnya konstan.

Minggu, 18 Juni 2017

Tipe Sambungan Las


 Tipe Sambungan Las
Ada beberapa bentuk dasar sambungan las yang biasa dilakukan dalam penyambungan logam, bentuk tersebut adalah butt joint, fillet joint (T joint), lap joint, edge joint, dan Corner joint.

a)  Butt Joint:
Terbentuk bila dua anggota sambungan yang berada kurang lebih dalam bidang sama didekatkan antara ujung satu sama lainnya. Butt joint dapat digunakan dengan atau tanpa persiapan terhadap anggota sambungan yang memiliki ketebalan yang sama ataupun berbeda. Umumnya digunakan pada subassemblies, fabrikasi dan proses perbaikan

b) Corner Joint:
Merupakan sambungan las yang dibentuk bila dua anggota sambungan diposisikan membentuk sudut kurang lebih 90 derajat dengan sambungan las pada bagian luar anggota sambungan. Umumnya digunakan pada konstruksi bejana tekan dan tangki. Logam pengisi dapat dibutuhkan dan dapat pula tidak tergantung pada desain dan fungsi sambungan.

c) Lap Joint:
Merupakan sambungan las yang dibentuk bila dua anggota sambungan diposisikan saling menumpuk satu sama lain.  Lebih kuat dibandingkan dengan sambungan tumpul, tetapi mengakibatkan terjadinya penambahan berat.  umumnya dilas pada kedua sisinya dan umumnya digunakan selama proses perbaikan dan untuk menambah panjang material standar ke panjang yang diperlukan.

d)  Fillet Joint (T Joint):
 
Merupakan sambungan las yang dibentuk bila dua anggota sambungan diposisikan kurang lebih 90 derajat satu sama lain dalam bentuk T. Jika dimungkinkan, dilas pada kedua sisinya untuk mendapatkan kekuatan maksimum. umumnya digunakan dalam fabrikasi struktur penopang dimana bebanditransfer ke bidang yang berbeda pada lebih 90 derajat.

e) Edge Joint:
 


Merupakan sambungan las yang dibentuk bila sisi dua anggotamsambungan akan disambung. Sisi yang dilas sejajar satu sama lain. sering dipakai dalam menyambung struktur penopang dan struktur baja yang pendek.

Sistem Bahan Bakar, Sistem Pelumas, Sistem Udara Bertekanan yang ada di kapal.

Sistem Bahan Bakar Aliran bahan bakar diambil tanki port dan tanki starboard bahan bakar didasar ganda dengan pompa pemindah bahan bakar ...